Apaa siii
Awan duduk di depan cermin, bercerita tentang dirinya sendiri di kaca.
Tadi aku memutuskan untuk makan malam soto Ayam Kampung Boyolali, satu tusuk sate puyuh, dan tempe mendoan. Iyah, aku tau tempe mendoan di toko yang selalu aku beli ini memang klemer klemer, selayaknya tempe mendoan asli. Tapi, sebenarnya aku ingin makan tempe yang kriuk. Tapii, ya sudahlahh, yang penting makan malam dengan soto.
Saat makanannya datang, aku sedikit terkejut, tempenyaa kriuk, tidak seperti biasanya. Aku terharu, rasanya semesta mendengarkan suara hati aku. Iyaa, suara hati yang sedang sedih, dan letih karena kejadian pagi ini. Pastinya, persoalan apalagi kalau bukan tentang pekerjaan di kantor.
Pagi tadi, rasanya aku ingin berteriak, dan menghilang. Aku merasa apa yang sudah aku kerjakan tidak dihargai, dan seolah-olah aku salah dalam mengartikan apa yang menjadi kesepakatan sebelumnya. Apakah ini artinya aku ingin dihargai? Yaa, mungkin saja. Aku terbiasa bekerja di lingkungan yang sangat mendukung dan saling menghargai satu sama lain.
Jika memang ada hal yg salah ditangkap, yaa tidak mentah-mentah menyalahkan orang lain, karena bisa saja mungkin cara menjelaskannya kurang detail dan jelas. Jika memang sudah telanjur mengerjakan hal yang salah, pekerjaan tersebut tetap dihargai. Tidak pernah rasanya aku menerima kalimat kalimat yang membuat aku merasa bodoh sekali.
Kalimat kalimat yang aku terima tadi pagii membuat aku merasa, oh aku salah menangkap, oh aku bodoh sekli. Dan frase yang aku terima dan membuat aku kesal adalah use your imagination. Apaan siii.
Aku paham, bahwa mungkin saja yang mengatakan hal tersebut netral saja, dan tidak bermaksud menyinggung atau yang lainnya. Tapii, aku manusiaa, yang memiliki kelemahan, dan belum bisa berkesadaran tinggi untuk memaklumi hal tersebut.
Aku sudah cukup lelah dengan sistem kerja, prosedur, yang tidak ada kejelasan ini. Aku lelah karena terlalu sering salah memahami suatu hal. Baru setahun, tapi rasanya sudah sangat jengah. Tapii, aku harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang seperti ini. Ini adalah pilihan yang harus aku pertanggungjawabkan.
Pernah gak ngerasain leher tiba-tiba sakit, saat berdiskusi dengan orang dan ga ada habisnya? Permintaannya ga masuk akal, dan ribet. Tapi, mau gamau kita terpaksa nurut karenaa, ga bisa apa apa juga karena engga punya kekuatan. Hiksss aku ingin pergiiii
Ditambah lagii ada orang lain yang mengesalkan. Yang saya minta kan dokumen tentang data dukung sebuah kerjaan yaaa, tanpa data dukung, yaa 0 besar, karena justifikasi harus berdasarkan data. Lhoo tapi ko ngeyelllll, malah bilang aku ragu atas justifikasi yang sudah mereka buat. Apaaaaa siii iniiii, perasaan udah kerjaa belasan tahun yaa, tapi masa ga paham tentang saat kita meminta dokumen ya itu bagian dari sebuah proses kerjaa, ya bukan kita ga percaya. Masa iyaa kita meloloskan suatu hal hanya dengan justifikasi orang tanpa data??
Mamaknya Awan, tak sengaja mendengar ceritanya, dan berkata lembut tenang, ga papa awan, kamu ga bodoh, kamu berhargaa. Lupakan kalimat orang lain yang membuat hatimu hancur. Kamu sangat berharga bagi mamak.
Komentar
Posting Komentar