Postingan

Menampilkan postingan dengan label Poet

Chandikala

 Chandik kala, tertemukan kedamaian dalam ratapan diam. Perlahan memudar seiring datangnya malam. Menghilang tak berarti pesonanya tenggelam. Pamitnya ia di awal malam, aku paham. Akan hadir kembali jika mentari kan tenggelam. Tidak, tidak menentu. Lihat langit, apakah ada awan dengan cerita kelam. Cerita kelam mengundang gemuruh di luar. Gemuruh di luar terdengar menakutkan tetapi senyapnya di dalam lebih memekikkan.  Seolah senyuman padahal kesakitan.

Awan

 Baring dalam lamunan, mengawasi setiap pergerakan awan. Seolah ia berubah bentuk menjadi istana dengan gerakan kecil tangan. Sejuta mimpi, tiada batasan dan ketakutan. Sedetik terbangun, sedetik kemudian lenyap tergantikan. Tiada ambisi hanya permainan. Tidak kehilangan semangat setelah kegagalan, tak kehilangan kepercayaan setelah kekecewaan, tak mengundang kebencian setelah penghianatan. 

Kemana Logika?

Hembusan angin sebelum hujan menyejukkan segala gelisah.  Angin yang bergerak tanpa logika memanggil resah.  Masih bertanya, kemanakah keberadaan logika?  Apakah ia bersembunyi karena percaya bahwa tak ada jiwa yang resah ? Mengapa logika tak bekerja ketika angin sedang memporakporanda sukma. Andai bisa kembali singgah di masa itu, hanya akan  kuijinkan ia bergerak bersama logika.  Akan selalu kupastikan setiap gerakkannya tak cederai rasa.