Postingan

Menampilkan postingan dengan label Self Reflection

Sudahkah kamu mengenal dirimu Awan?

Awan, masihkah terlintas dalam benakmu bahwa  menjadi bunga sakura di tengah ambisiusnya manusia Jepang itu lebih menyenangkan? Masihkah terasa luka melihat burung bisa terbang kemanapun ia suka ? Sedangkan kau, hanya bisa bergerak mengikuti laju angin. Masihkah kau belum menerima bahwa semesta menjadikanmu sebagai Awan? Sudahkah kamu mengenal dirimu Awan? Untuk apa kamu dijadikan? Kekuatan Apa yang semesta titipkan?  Semua hal diciptakan dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Setiap hal punya peran dalam menciptakan kedamaian pada semesta. Hidup ini bukan tentang kamu dan mereka. Tapi tentang dirimu sendiri, tentang keistiqomahanmu pada Sang Semesta. Awan, Apa yang kamu cari? Kebahagiaankan? Sudahkah kamu definisikan kebahagiaanmu? Sudah pahamkah perbedaan senang dan bahagia? Sudah pahamkah hal apa saja yang bisa membuatmu bahagia?  Temukanlah, lalu kamu pada akhirnya akan sadar bahwa ia berada sangat dekat dibanding urat lehermu, Ia Tuhanmu. Ribuan kali kamu be...

Maju atau Mundur?

Ingin melangkah tapi rasanya kebimbangan menahan. Diam bukan berarti mengabaikan, hanya saja bingung haruskah kaki melangkah maju atau mundur. Atau adakah jurus lenyap?Tak ingin melangkah, karena akan semakin jauh tuk pulang. Kedamaian seperti jelas depan mata, tetapi tunggu, ekspektasi apa yang ia bawa? Akankah kekecewaaan menyapa? Akankah jiwa-jiwa yang bebas merasa terkungkung dalam kelapangan? Jika itu pilihan semesta, diamku tak membuatnya berbalik arah kan?

Mentari

Gambar
Tidak peduli seberapa banyak orang yang menantikannya, Ia selalu datang dengan keindahan dan kehangatan. Tak peduli cuaca, ia akan tetap menyapa semua emosi yang menghampiri.  Kepulangannya tak menyisakan kesedihan karena ia mengutus malam menyelimuti sepi dalam diri. Dimanapun kaki kita berpijak, ia sama-sama tetap akan berpamit pulang. Pada intinya ia datang dan pergi, tak peduli apakah kita menyambut dan melepaskannya. Mengapa kita harus menyambut dan melepaskan kepergiannya? Bukankah itu tidak penting baginya? Betul sekali, sambutan dan pelepasan baginya tidak penting. Penyambutan dan pelepasan mentari bukan karena bentuk apresiasi atas jasa Si Mentari melainkan hanya kepuasan sendiri. Bukankah itu sungguh egois? Tidak, bagi orang yang mau berpikir. Seharusnya kita bisa meraskan Dzat yang Maha dalam matahari yang terbit dan tenggelam. Berikut ini adalah kepergiannya yang sempat aku abadikan.   

Sans

 Bukankah tidak penting sudahkah kita sampai pada tujuan? Bukankah seringkali kita salah tujuan ketika kita sudah sampai pada akhir pemberhentian? Bukankah seringkali kita disesatkan semesta lalu menemukan tujuan lain yang ternyata lebih indah? Lalu mengapa membiarkan waktu tersapa oleh resah saat tujuan dibelokkan atau tak kunjung sampai pada tujuan?  Terus berjalanlah dengan kesyukuran tanpa tulip-tulip keriangan dalam angan.  Dalam perjalanan, malam dan gelapnya akan selalu ada, carilah secercah cahaya agar bisa bertahan. Nikmatilah perjalanan, sebarlah benih - benih tulip dalam angan disepanjang perjalanan.  Waktumu, hidupmu, habis dalam perjalanan, bukan pada saat sampai tujuan.  Lalu, mengapa menahan senyum  dan membiarkan air mata disepanjang jalan? Mengapa berharap tulip kan menyembuhkan? Bukankah bisa jadi tulip dalam anganmu itu rekah dan tulip aslinya layu dan membisu? 

Pilukah?

 Adakah terdengar olehmu, muadzin sore ini seperti menyampaikan pilu pada adzan asharnya? Akan ada yang pergi tapi tidak ada yang bisa menahannya. Waktu, tak bisa diperlambat apalagi dihentikan. Ia, berjalan maju sesuai ketentuannya. Relativitas, mungkin bisa bekerja sama untuk menahannya. Hari kemenangan, disambut dengan kebahagiaan seharusnya, tapi tersisa rasa selain kebahagiaan yang disembunyikan. Kepergian dan kedatangan yang bertolak belakang dalam rasa. Dua rasa yang berlawanan bersatu dan mengalir dalam tetesan sendu.  Kesedihan dalam mengantarkan kepergiannya, hanya dirasakan oleh mereka yang paham akan kesucian dan keistimewaannya. Sebentar lagi, akan dikumandangkan takbir yang diolah dari beragam rasa dan pemaknaan. Yang terlantunkan bukan sekadar suara takbir melainkan ada ramuan emosi. 

Karat

 Kayu, di samping rumah, ditancapkan atau tertancapkan paku. Waktu, menyesakkan, mematikan. Dihujani kesenyapan, terpapar segala prasangka dalam karat.  Semesta membantunya, paku itu tercabut. Tapi tersisa lubang dan karat. Beritahu padaku bagaimana mengembalikan kayu itu seperti semula? Ia kehilangan kepercayaan kepada segala mata, tak hanya kepada tangan yang  menggenggam palu.  Entah, apa ini bentuk sangkalan dalam penerimaan. Masih tersisa ketakutan, apakah ia kan memaku kayu itu kembali? Lagi, ini adalah prasangka yang mulai terbangun. Semesta pun tau, tangan itu tak lagi menggengam palu. Tangannya tlah lembut menyapu segala luka. Tapi lubang dan karat itu terus menggali segala prasangka.  Bagaimana hendak melangkah jika selalu disuguhi dengan prasangka. Bagaimana menghadirkan percaya jika lubang dalam kayu masih terbuka. Bagaimana menghadirkan senyuman dalam kerapuhan?  Segala tanya dijawab, belum adanya kedewasaan dan kebijaksanaan. Ingatlah bahwa ta...

Suara Rasa

Ada yang tak bisa mendengar suara rasa dengan sebuah kata. Butuh rangkaian kata indah tapi tanpa gundah. Tapi sayangnya, setiap raga punya caranya sendiri dalam menyampaikan makna. Tak bisa memilih, naluriah, alam bawah sadar yang bekerja. Tak ada yang salah, hanya saja perlu waktu untuk menyelami apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Ketika itu, taburan bintang tak terlihat indah karena lensa  beruap sepi dalam kabut dingin. Hingga akhirnya, aku menunggu uap itu hilang sampai tak sadar, bintang itu tlah tergantikan mentari. Seharusnya sama indahnya, namun aku menyukai bintang yang mampu menghangatkan jiwa pada dinginnya malam.