Postingan

Mentari

Gambar
Tidak peduli seberapa banyak orang yang menantikannya, Ia selalu datang dengan keindahan dan kehangatan. Tak peduli cuaca, ia akan tetap menyapa semua emosi yang menghampiri.  Kepulangannya tak menyisakan kesedihan karena ia mengutus malam menyelimuti sepi dalam diri. Dimanapun kaki kita berpijak, ia sama-sama tetap akan berpamit pulang. Pada intinya ia datang dan pergi, tak peduli apakah kita menyambut dan melepaskannya. Mengapa kita harus menyambut dan melepaskan kepergiannya? Bukankah itu tidak penting baginya? Betul sekali, sambutan dan pelepasan baginya tidak penting. Penyambutan dan pelepasan mentari bukan karena bentuk apresiasi atas jasa Si Mentari melainkan hanya kepuasan sendiri. Bukankah itu sungguh egois? Tidak, bagi orang yang mau berpikir. Seharusnya kita bisa meraskan Dzat yang Maha dalam matahari yang terbit dan tenggelam. Berikut ini adalah kepergiannya yang sempat aku abadikan.   

Trip ke Tumpak Sewu

Hai, mau nyarios heula perjalanan aku ke Tumpak Sewu. Tumpak Sewu/Coban Sewu adalah air terjun yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Seringkali orang menyebutnya Niagaranya orang Jawa Timur. Perjalananku menuju air terjun ditemani oleh seorang tour guide lokal yang merangkap sebagai fotografer. Pertama, aku memulai perjalanan menuju panorama. Panorama adalah sebuah tempat dimana kita bisa melihat air terjun dari tampak atas. Di sini disediakan menara kecil untuk mengambil foto dari sudut pandang yang menarik. Tetapi jika datang terlalu pagi, air terjun tidak terlihat karena masih tertutup kabut ahaahah. Amannya dateng ke tempat ini sekitar pukul 8 pagi, jadi bisa melihat indahnya Coban Sewu dari tampak atas. Andaikan aku bisa ngelihat air terjun itu dari panorama, pasti indah banget. But it's okay ngelihat kabut juga udah sesuatu hal yang baru bagi aku.  Setelah menunggu kurang lebih 30 menit dan kabut enggan pergi, lalu aku putuskan untuk langsung cuss ke air terjun....

Trip ke Gunung Bromo

Gambar
 Hai guys aku mau sharing trip aku hari ini..  Hari ini aku trip ke Taman Nasional Gunung Bromo. Kebetulan hari ini adalah hari kedua Gunung Bromo dibuka setelah sebelumnya ditutup karena PPKM (hanya bisa melihat sunrise). Untuk trip kali ini aku pake jasa tour and travel http://journeymalang.co.id/. Untuk yang kepo, bisa langsung cus aja ke websitenya yah.  Jasa tournya jemput langsung kami dari rumah. Sekitar pukul setengah satuan kami langsung jalan ke rest area Wonokitri. Sekitar pukul 3 kurang kami sampai di Rest Area Wonokitri. Seturun dari mobil, kami disambut oleh ibu-ibu yang menjajakan kethu, sarung tangan dan syal. Meskipun kita dah bilang engga mau beli, mereka tetep usaha supaya dagangannya dibeli. ahaha, kalo dah memelas pasti jadi ga enak. Rest Area Wonokitri pada intinya tempat ke toilet dan pergantian mobil aja. Untuk ke toiletnya bayar 3 k aja seorang. Perjalanan berlanjut menuju ke area penajakan/spot sunrise menggunakan mobil jeep. Spot sunrise yang ka...

Sans

 Bukankah tidak penting sudahkah kita sampai pada tujuan? Bukankah seringkali kita salah tujuan ketika kita sudah sampai pada akhir pemberhentian? Bukankah seringkali kita disesatkan semesta lalu menemukan tujuan lain yang ternyata lebih indah? Lalu mengapa membiarkan waktu tersapa oleh resah saat tujuan dibelokkan atau tak kunjung sampai pada tujuan?  Terus berjalanlah dengan kesyukuran tanpa tulip-tulip keriangan dalam angan.  Dalam perjalanan, malam dan gelapnya akan selalu ada, carilah secercah cahaya agar bisa bertahan. Nikmatilah perjalanan, sebarlah benih - benih tulip dalam angan disepanjang perjalanan.  Waktumu, hidupmu, habis dalam perjalanan, bukan pada saat sampai tujuan.  Lalu, mengapa menahan senyum  dan membiarkan air mata disepanjang jalan? Mengapa berharap tulip kan menyembuhkan? Bukankah bisa jadi tulip dalam anganmu itu rekah dan tulip aslinya layu dan membisu? 

Pencerahan

  Pada jam istirahat yang cukup singkat ini, mungkin hanya sekitar 45 menit, aku gunakan untuk membaca pesan dari Zahira..    Beginilah pesannya . .. Akhir-akhir ini jarang sekali aku menyambut mentari dengan semangat dan riang gembira. Tak peduli cuaca, pagiku  selalu mendung. Semakin lama, tujuanku semakin buyar. Seringkali aku berdalih mencari makna dalam kesendirian, padahal sedang membiarkan waktu lewat begitu saja. Dalam kesendirian menyibukkan diri mendengar pesan peringatan, yang nyatanya tak membuat tujuan hidup semakin jelas. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah terlalu memanjakan diri dengan dalih menjeda. Iyah sih bener, setiap manusia butuh jeda dalam hidupnya, tapi sepertinya aku terlalu sering menjeda. Setiap kata dalam kalimat butuh jeda, antar paragraf dalam sebuah cerita juga butuh jeda, tapi proporsional, jika berlebihan tidak akan enak dipandang.   Ada satu hal yang pada akhirnya membuatku meneruskan perjalanan. Tidak ada siapapun termasuk...

Pilukah?

 Adakah terdengar olehmu, muadzin sore ini seperti menyampaikan pilu pada adzan asharnya? Akan ada yang pergi tapi tidak ada yang bisa menahannya. Waktu, tak bisa diperlambat apalagi dihentikan. Ia, berjalan maju sesuai ketentuannya. Relativitas, mungkin bisa bekerja sama untuk menahannya. Hari kemenangan, disambut dengan kebahagiaan seharusnya, tapi tersisa rasa selain kebahagiaan yang disembunyikan. Kepergian dan kedatangan yang bertolak belakang dalam rasa. Dua rasa yang berlawanan bersatu dan mengalir dalam tetesan sendu.  Kesedihan dalam mengantarkan kepergiannya, hanya dirasakan oleh mereka yang paham akan kesucian dan keistimewaannya. Sebentar lagi, akan dikumandangkan takbir yang diolah dari beragam rasa dan pemaknaan. Yang terlantunkan bukan sekadar suara takbir melainkan ada ramuan emosi. 

Karat

 Kayu, di samping rumah, ditancapkan atau tertancapkan paku. Waktu, menyesakkan, mematikan. Dihujani kesenyapan, terpapar segala prasangka dalam karat.  Semesta membantunya, paku itu tercabut. Tapi tersisa lubang dan karat. Beritahu padaku bagaimana mengembalikan kayu itu seperti semula? Ia kehilangan kepercayaan kepada segala mata, tak hanya kepada tangan yang  menggenggam palu.  Entah, apa ini bentuk sangkalan dalam penerimaan. Masih tersisa ketakutan, apakah ia kan memaku kayu itu kembali? Lagi, ini adalah prasangka yang mulai terbangun. Semesta pun tau, tangan itu tak lagi menggengam palu. Tangannya tlah lembut menyapu segala luka. Tapi lubang dan karat itu terus menggali segala prasangka.  Bagaimana hendak melangkah jika selalu disuguhi dengan prasangka. Bagaimana menghadirkan percaya jika lubang dalam kayu masih terbuka. Bagaimana menghadirkan senyuman dalam kerapuhan?  Segala tanya dijawab, belum adanya kedewasaan dan kebijaksanaan. Ingatlah bahwa ta...