Postingan

Lamunan di tengah Kemacetan

Seberapa banyak yang kau tahu? Yang kau pahami? Setetes lautan pun tak ada. Lalu mengapa memandang orang lain dari balik awan? Mengapa tak kau sapa mereka di dataran pantai saja? Apakah memandang mereka di ketinggian awan lebih memuaskan?  Sejatinya semua dari kita sama saja. Insan terdampar yang sedang belajar dan mencari jalan pulang. Setiap kita memegang peta dan kompasnya masing-masing. Tapi tantangannya adalah kompas dan petanya ini harus kita temukan sendiri. Setiap orang akan mengatakan kompas dan peta miliknya lah yang benar. It's okay.. diantara kebimbangan itu, teruslah mencari sampai kau yakin kompas dan peta yang kau pegang adalah yang paling benar.  Lalu jika kita salah memegang kompas dan peta bagaimana? Tidak apa, yang penting adalah terus mencari. Jika di pertengahan jalan kau menyadari kompas dam peta yang kau pegang salah, lalu temukanlah yang kau anggap benar dan langsung gunakanlah. Sejatinya kita tidak tau peta dan kompas mana yang benar, karena semuanya i...

Menunggu Dr. Tolhas

 Aku percaya bahwa karma itu ada walapun niat kita sama sekali tidak buruk. Lingkungan luar dengan berbagai macam atmosfernya, membuat hujan yang dirindukan para petani menjadi bencana bagi para penghuni kolong jembatan. Semua bergantung bagaimana kondisi kita saat itu, dan bagaimana pula sikap kita menerima hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi.  Terkadang kita tidak paham dengan kata yang tidak ada unsur selain keburukan, ternyata diterima orang lain dengan respon negatif. Seperti aku yang pernah berkata "disetir", lalu ada orang lain yang menerimanya sebagai inputan negatif.  Sebetulnya, aku cuma mau nulis kalo semisal terkadang kita mikir kenapa sih gini doang ko orang bisa sebegitu kesalnya? Atau kenapa sih orang bisa berlaku demikian? Intinya kita bertanya2 terhadap suatu hal. Nah nanti, semesta  dengan caranya sendiri akan membawa kita di posisi yang sebelumnya kita bertanya2 thd sikap seseorang.  Sedikit bercerita, dulu karena saking paniknya udah mau ...

Sudahkah kamu mengenal dirimu Awan?

Awan, masihkah terlintas dalam benakmu bahwa  menjadi bunga sakura di tengah ambisiusnya manusia Jepang itu lebih menyenangkan? Masihkah terasa luka melihat burung bisa terbang kemanapun ia suka ? Sedangkan kau, hanya bisa bergerak mengikuti laju angin. Masihkah kau belum menerima bahwa semesta menjadikanmu sebagai Awan? Sudahkah kamu mengenal dirimu Awan? Untuk apa kamu dijadikan? Kekuatan Apa yang semesta titipkan?  Semua hal diciptakan dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Setiap hal punya peran dalam menciptakan kedamaian pada semesta. Hidup ini bukan tentang kamu dan mereka. Tapi tentang dirimu sendiri, tentang keistiqomahanmu pada Sang Semesta. Awan, Apa yang kamu cari? Kebahagiaankan? Sudahkah kamu definisikan kebahagiaanmu? Sudah pahamkah perbedaan senang dan bahagia? Sudah pahamkah hal apa saja yang bisa membuatmu bahagia?  Temukanlah, lalu kamu pada akhirnya akan sadar bahwa ia berada sangat dekat dibanding urat lehermu, Ia Tuhanmu. Ribuan kali kamu be...

Maju atau Mundur?

Ingin melangkah tapi rasanya kebimbangan menahan. Diam bukan berarti mengabaikan, hanya saja bingung haruskah kaki melangkah maju atau mundur. Atau adakah jurus lenyap?Tak ingin melangkah, karena akan semakin jauh tuk pulang. Kedamaian seperti jelas depan mata, tetapi tunggu, ekspektasi apa yang ia bawa? Akankah kekecewaaan menyapa? Akankah jiwa-jiwa yang bebas merasa terkungkung dalam kelapangan? Jika itu pilihan semesta, diamku tak membuatnya berbalik arah kan?

Cara ke Pantai Sambolo pake Transportasi Umum

Gambar
Hi, mau mengabadikan perjalananku ke Pantai Sambolo pake transportasi umum. Kalau2, ada yang mau nyobain pake angkutan umum, ini bisa jadi referensi kalian.. Ini daftar transportasi umum yang aku  pake yah..  1. Citra Raya - St. Parung Panjang : Transportasi online.  2. St. Parung Panjang - St. Rangkasbitung : KRL  3. St. Rangkasbitung - St. Kerenceng : Kereta Api Lokal 4. St. Kerenceng - Pantai Sambolo : Angkot Silver Pukul 06.30 aku sudah memulai perjalanan menuju St. Parung Panjang pake Grab Car. Perjalanan hanya ditempuh selama 53 menit. Lalu perjalanan dilanjut menggunakan KRL.  Aku pake KRL tujuan Rangkasbitung  jadwal pukul 07:30. Untuk jadwal KRLnya kalian bisa cek di aplikasi KAI Access.  Di KRL aku hanya memandangi berbagai aktivitas manusia. Ada yang terlelap tidur, ada yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang melamun entah berpikir apa. Beberapa kali aku menengok pemandangan luar dari balik kaca krl yang sedikit berdebu. Sawah, ladang, rumah-r...

Mentari

Gambar
Tidak peduli seberapa banyak orang yang menantikannya, Ia selalu datang dengan keindahan dan kehangatan. Tak peduli cuaca, ia akan tetap menyapa semua emosi yang menghampiri.  Kepulangannya tak menyisakan kesedihan karena ia mengutus malam menyelimuti sepi dalam diri. Dimanapun kaki kita berpijak, ia sama-sama tetap akan berpamit pulang. Pada intinya ia datang dan pergi, tak peduli apakah kita menyambut dan melepaskannya. Mengapa kita harus menyambut dan melepaskan kepergiannya? Bukankah itu tidak penting baginya? Betul sekali, sambutan dan pelepasan baginya tidak penting. Penyambutan dan pelepasan mentari bukan karena bentuk apresiasi atas jasa Si Mentari melainkan hanya kepuasan sendiri. Bukankah itu sungguh egois? Tidak, bagi orang yang mau berpikir. Seharusnya kita bisa meraskan Dzat yang Maha dalam matahari yang terbit dan tenggelam. Berikut ini adalah kepergiannya yang sempat aku abadikan.   

Trip ke Tumpak Sewu

Hai, mau nyarios heula perjalanan aku ke Tumpak Sewu. Tumpak Sewu/Coban Sewu adalah air terjun yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Seringkali orang menyebutnya Niagaranya orang Jawa Timur. Perjalananku menuju air terjun ditemani oleh seorang tour guide lokal yang merangkap sebagai fotografer. Pertama, aku memulai perjalanan menuju panorama. Panorama adalah sebuah tempat dimana kita bisa melihat air terjun dari tampak atas. Di sini disediakan menara kecil untuk mengambil foto dari sudut pandang yang menarik. Tetapi jika datang terlalu pagi, air terjun tidak terlihat karena masih tertutup kabut ahaahah. Amannya dateng ke tempat ini sekitar pukul 8 pagi, jadi bisa melihat indahnya Coban Sewu dari tampak atas. Andaikan aku bisa ngelihat air terjun itu dari panorama, pasti indah banget. But it's okay ngelihat kabut juga udah sesuatu hal yang baru bagi aku.  Setelah menunggu kurang lebih 30 menit dan kabut enggan pergi, lalu aku putuskan untuk langsung cuss ke air terjun....