Metode GROW dalam Penetapan Tujuan
Metode GROW ini sangat perlu kita tau karena bermanfaat di dunia pekerjaan dan juga di kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani hidup, kita tidak bisa lepas dari apa yang namanya tujuan. Tentunya kita semua ingin jika tujuan atau hal yang kita inginkan tercapai, toh? Contoh simpelnya misal kita pengen jadi ASN tahun depan. Nah, gimana tuh supaya tujuan kita tercapai? Karena tidak jarang, kita punya keinginan atau tujuan, tapi keinginan atau tujuan tersebut hanya berhenti pada pemikiran saja. Atau mungkin sudah melakukan action, tapi berhenti di tengah jalan dan tidak dilanjutkan.
Loh, memangnya salah jika berhenti mengejar tujuan yang
sudah ditetapkan wel? Tentu tidak ada yang salah, karena hal tersebut adalah
pilihan masing-masing orang. Tetapi, kita patut curiga, kenapa tujuan tersebut
tidak dilanjut? apakah karena dalam penyusunan tujuan tersebut belum terlalu
matang dan asal-asalan atau memang ada hal di luar kendali diri kita membuat
perjalanan harus berhenti?
Jika perjalanan harus terhenti karena proses penentuan
tujuannya belum dilakukan seoptimal mungkin, nampaknya kita perlu belajar cara
melakukan penetapan tujuan yang optimal supaya apa yang kita inginkan atau
impikan menjadi kenyataan. Sehingga mimpi-mimpi kita tidak hanya sekadar
tulisan, tetapi berwujud menjadi kenyataan.
Lalu, gimana cara penetapan tujuan yang optimal wel?
Bisa menggunakan metode GROW, GROW adalah akronim dari Goals,
Reality, Option, dan Will. Okeh aku coba jelaskan satu-satu yah terkait
pemahaman aku terkait hal ini. Mari kita cekidot wel..
1. GOALS.
Tujuan adalah sesuatu hal yang kita inginkan atau capai.
Tujuan yang kita susun harus mengandung SMART. SMART adalah akronim dari spesific,
measurable, achievable, rewarding, timebound. Tujuan yang kita buat harus
spesifik. Contoh tujuan yang spesifik: meningkatkan kepuasan karyawan terkait
benefit dari perusahaan sebesar 20% dari tahun sebelumnya. Cukup spesifik
bukan? Beda cerita jika tujuan kita hanya ingin meningkatkan kepuasan
karyawan terhadap benefit perusahaan. Tujuan tersebut kurang spesifik dan perlu
ditambahkan seberapa besar peningkatannya, dan perbandingannya dengan tahun
berapa? Tujuan yang spesifik ini membantu kita dalam mengevaluasi terkait sudah
atau belumnya tujuan tersebut tercapai.
Spesifik di sini pula artinya dari tujuan besar yang kita
miliki, kita bisa bagi tujuan tersebut menjadi tujuan-tujuan kecil mingguan
supaya mudah untuk diimplementasikan. Jika tujuan terlalu umum, terkadang
tujuan yang sudah kita set tidak membuat kita kemanapun. Aku
jadi teringat pada cerita Ignatius Jonan yang berprestasi dalam
mentrasformasikan perusahaan KAI menjadi perusahaan yang jauh lebih rapi,
teratur, dan juga digital. Ketika melakukan perubahan, beliau juga menjabarkan
visi perusahaan tersebut ke hal-hal/tujuan-tujuan kecil yang bisa dimengerti
oleh staff terbawah sekalipun.
Selain spesifik, tujuan yang dibuat juga harus mengandung
komponen measurable, atau dapat diukur. Setelah menetapkan tujuan
yang spesifik, kita perlu memastikan apakah tujuan kita bisa diukur? metode apa
yang akan digunakan? Jika tujuan yang sudah kita buat tidak bisa diukur, kita
tidak pernah tau apakah tujuan yang sudah ditetapkan di awal sudah sejauh apa
dia berjalan, dan tidak pernah tau apakah sudah tercapai atau belum.
Komponen selanjutnya yang perlu ada dalam sebuah tujuan
adalah achievable atau dapat dicapai. Di sini kita menganalisa
apakah tujuan kita memungkinkan untuk bisa dicapai. Hal ini sangat penting
dilakukan agar kita tidak hanya membuat tujuan berdasarkan ambisi belaka dan
mengesampingkan faktor lainnya. Jika sedari awal tujuan tersebut sudah jelas
tidak mungkin dilakukan, kita tidak perlu merancang action plan untuk
mencapai tujuan tersebut. Contoh : Tujuan aku adalah bisa lolos seleksi BUMN
tahun depan. Syarat usia pelamar adalah 26 tahun dan melihat Setelah melihat
sekarang usia aku 27 tahun, di sini jelas tujuan ini tidak achievable.
Setelah tujuan kita sudah cukup spesifik, bisa terukur dan
mungkin untuk dicapai, tahap selanjutnya adalah kita perlu telisik apakah ada
komponen Rewarding dalam tujuan kita. Hal ini terkait dengan apakah tujuan kita
itu cukup menjanjikan? Apakah akan cukup bermanfaat untuk kita? Apa
yang akan kita dapat? Jika tujuan tersebut tidak cukup mendatangkan manfaat
untuk siapapun, kita perlu evaluasi lagi tujuan kita.
Komponen terkahir yang perlu ada dalam sebuat tujuan adalah
Time bound. Time bound memiliki arti bahwa tujuan kita harus ada
deadlinenya. Kapan tujuan tersebut harus dicapai? Tentunya penentuan
deadline ini tidak bisa asal-asalan melainkan harus benar diperhatikan serta
harus realistis juga berdasarkan perhitungan.
2. REALITY
Pada tahap ini kita memeriksa dan mencoba menganalisa
situasi kita saat ini. Di tahap ini, kita detailkan kondisi-kondisi saat ini
yang nantinya berdampak pada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mencapai
tujuan yang sudah ditetapkan. Contoh pertanyaan yang perlu kita jawab :
Sumber daya apa yang saat ini kita miliki?
Kekuatan apa yang kita miliki?
Apa yang sudah kita pelajari?
Apa saja hal yang sudah kita lakukan?
Dengan melihat kondisi kita saat ini, nantinya di tahap
selanjutnya kita bisa menyusun action plan dan strategi berdasarkan kondisi
atau realita yang kita miliki saat ini.
3. OPTION
Tahap ini adalah terkait perancangan action plan yang mana
berisi opsi-opsi yang bisa dilakukan setelah mempertimbangkan reality atau
kondisi kita saat ini. Sedikit menyambungkan dengan action coach, action plan
ini disusun oleh mentee. Coach tidak perlu membantu mentee dalam menyusun
action plan. Tugas coach hanya membantu mentee dalam memperluas cara berpikir
dalam penyusunan action plan. Jenis pertanyaan yang dapat memperluas pemikiran
mentee adalah dengan pertanyaan jenis “How Question”.
Tujuan dari mentee harus berpikir dan memformulasikan
sendiri action plannya adalah supaya si mentee ini mandiri, memiliki pemikiran
yang berkembang, merasa dianggap dan semangat dalam pelaksanaanya karena
dirinyalah yang menyusun action plan tersebut.
4. WILL
Will diperlukan agar kita bisa menjalankan action plan kita
dengan hati, karena apapun yang dilakukan tidak dengan hati, ada kemungkinan
nantinya akan berhenti di tengah jalan dan karena tidak ada gairah untuk
melakukan action plannya. Pada tahap ini, kita tanyakan kembali kepada
diri kita, dengan action plan yang sudah kita susun apakah kita mau untuk
menjalankannya sepenuh hati?
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menguatkan will kita
:
- Summarykan kembali hal yang nantinya akan kita capai, dan
manfaat apa saja yang akan didapatkan ketika tujuan sudah tercapai.
- Merayakan Kesuksesan jika nantinya tujuan tercapai
-Memberikan afirmasi positif
Komentar
Posting Komentar