Teknik STATE untuk Crucial Conversation

Terkadang kita memilih diam dibandingkan berbicara karena takut. Takut ketika kita mengungkapkannya, pihak lain marah, dan akibatnya kita sama-sama bertengkar dan bersi tegang. Setelah membaca buku crucial converation yang ditulis oleh Peterson, Grenny, McMillan, Switzler, aku sedikit menjadi paham bagaimana seharusnya aku mengkomunikasikan supaya tujuan komunikasi tercapai tapi tidak ada ketegangan yang muncul. Dalam buku tersebut dibahasa lengkap, tetapi kali ini aku hanya akan menceritakan secuil saja.

 

STATE, ya gunakanlah alat bantu ini untuk mengungkapkan topik sensitif sekalipun.

Sampaikan fakta Anda

Aku coba sampaikan cerita yang ada di buku itu yahh. Misal kalian menemukan tagihan kartu kredit yang mencurigakan, dan kalian berpikir pasangan kalian selingkuh. Ketika kalian bertemu pasangan, langsung bilang “harusnya aku ga nikah sama kamu”. Nah hal ini akan memicu pertengkaran. Harusnya dimulai dari faktanya terlebih dahulu. Faktanya adalah ada tagihan kartu kredit. Seharusnya sampaikan terlebih dulu fakta ini, jangan loncat langsung menyampaikan kesimpulan atau kecurigaanya.

 

Contoh lain ketika ada karyawan yang terlambat masuk kerja 20 menit. Nah ketika karyawan itu datang jangan tiba – tiba bilang “ kamu ga bisa dipercaya”, seharusnya sampaikan faktanya terlebih dahulu, contoh “ kamu hari ini telah 20 menit”.

 

Tuturkan cerita Anda

Setelah menyampaikan fakta, kita perlu menuturkan cerita kita. Cerita membantu pihak lain paham kenapa kita menyampaikan fakta tersebut. Contoh : Anda sebagai manager telah menyampaikan fakta bahwa staff Anda telah 20 menit ke kantor. Lalu tuturkan ceritanya misal dengan , “karena telat 20 menit, akibatnya line produksi terganggu, aku khawatir karena hal ini akan berakibat buruk pada profit perusahaan yang berdampak pada penurunan bonus kita tahun ini”.

 

 

Ajukan pertanyaan terkait orang lain

Setelah kita menyampaikan fakta dan cerita, saatnya kita mengajukan pertanyaan ke lawan bicara. Hal yang peru diperhatikan di sini adalah kita harus ramah dan membiarkan lawan bicara kita beropini apapun. Kita sudah menyampaikan perspektif kita, dan kita juga perlu memberikan kesempatan lawan bicara kita untuk mengungkapkan perspektif mereka juga.

 

Tentatif saat berbicara

Hal ini berbicara mengenai bagaimana cara kita menyampaikan fakta dan ceritanya, seperti ketika kita sedang menuturkan cerita ya jangan sampai kita membuat cerita kita seolah-olah adalah fakta. Kemudia, harus aktif juga menanyakan perspektif lawan bicara, dan tak lupa kita tak boleh memojokkan orang lain dalam percakapan tersebut. Semuanya harus berlandaskan niat baik untuk melalukan percakapan, bukan untuk sakadar marah-marah dan memojokkan.

 

Evaluasi pernyataan Anda

Dalam hal ini, kita perlu meminta pendapat-pendapat yang bertentangan dengan cerita kita untuk membuat mereka merasa aman dan nyaman untuk berbicara. Contoh, apa yang luput dari perhatian saya disini? Saya ingin sekali mendengar sisi lain dari cerita ini”.

 

Selain itu, mainkan peran sebagai penentang di sini, sehingga lawan bicara kita menjadi merasa aman untuk bercerita seperti, “ ah, mungkin saya keliru di sini, bagaimana jika yang sebaliknya benar, …”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perawatan Gigi di RSGM FKGUI

Pengalaman Rekrutment di PT Lion Super Indo

Pengalaman Magang di PT Perkebunan Nusantara VIII